Fidyah Hanya Untuk Orang Sakit ?

fidyah

Ramadhan beberapa tahun yang lalu saya bertemu dengan teman saya yang bernama Pak I yang memiliki pemikiran unik dan brilian mengenai puasa dan fidyah.Di tengah siang hari yang panas disinari terik matahari di bulan ramadhan,yang mana saya mengalami dahaga yang luar biasa beserta perut yang berteriak minta diberi asupan.Tiba-tiba Pak I mengajak saya untuk makan dan minum di sebuah warung makan,tentu saja saya menolak karena saya sedang menjalani puasa,tetapi saya bersedia menemani Pak I untuk meminta penjelasan dan alasan dari nya mengenai kelalaian Pak I menjalankan puasa di bulan ramadhan.Perlu diketahui saja bahwa Pak I ini lulusan pondok pesantren di Mranggen ( dekat dengan Semarang dan Demak),serta pernah mengenyam pendidikan tambahan di Al-Azhar, Cairo.

Perbincangan saya dengan Pak I ,dimulai dengan membedah Qur’an pada surat Al-Baqarah ayat 183-184 yang berbunyi :

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa. (Yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barangsiapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah ia berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jia ia tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu) memberi makan seorang miskin.Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (Al Baqarah: 183-184).

Pak I menjelaskan bahwa berdasarkan QS Al-Baqarah 184 ,maka bagi orang-orang yang berat menjalankan puasa wajib membayar fidyah.Menurut Pak I,orang-orang yang berat menjalankan puasa tidak dibatasi oleh orang sakit,orang tua renta,wanita hamil/menyusui,musafir.Selama ini menurut Pak I kita membatasi dan menyulitkan sendiri oleh dalil,kesepakatan ulama(ijtihad) yang membatasi orang yang tidak wajib menjalankan puasa ramadhan, padahal sebenarmya ajaran islam itu mudah dan sangat flexible untuk siapa pun.

Lalu Pak I juga menjelaskan bahwa dia tidak berpuasa tetapi dia tidak lupa untuk melunasi kewajibannya dengan membayar fidyah sesuai takaran yang dia  miliki,yaitu jumlah rata2 biaya 1 x makan x (jumlah istri dan anaknya).Perbincangan kami dengan Pak I makin seru ketika Pak I menggoda saya untuk membatalkan puasa.Akhirnya saya tidak kuat menahan godaan itu dan akhirnya saya ikut makan juga bersama dengan Pak I sambil dihantui perasaan takut dan berdosa karena tidak menjalankan puasa.

Di tengah perasaan saya yang takut,Pak I menanyakan kepada saya ‘apa tujuan berpuasa di bulan ramadhan? ,saya lalu menjawab bahwa puasa itu perintah Allah.Lalu pak I menjelaskan bahwa tujuan berpuasa berdasarkan Qur’an surat Al-Baqarah ayat 183 adalah agar kita menjadi bertaqwa.Dan  Pak I menjelaskan bahwa orang yang paling mulia di mata Allah adalah orang yang paling bertaqwa .Pak I menjelaskan bahwa segala bentuk ibadah dan ritual yang kita jalani agar manusia menjadi bertaqwa.Karena dengan bertaqwa,manusia bisa siap menghadapi perjalanan hidup.

Pak I lalu bertanya kepada saya “apakah definisi orang bertaqwa,menurut mu ?”tanya Pak I dengan muka serius kepada saya.

Saya dengan polosnya menjawab “orang bertaqwa adalah orang yang menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan Allah”.

Pak I pun berkata “Jawaban mu kurang tepat,coba kamu baca dan lihat di Qur’an surat Al-Imran ayat 134-136″jawab Pak I sambil menunjukkan aplikasi Qur’an di ponsel nya.

Dengan antusias saya membaca  Qur’an surat Al-Imran ayat 134-136 yang berbunyi :

(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan.(QS. Ali Imron: 134)Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. (QS. Ali Imron: 135)Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal. (QS. Ali Imron:136)

Setelah membaca  Qur’an surat Al-Imran ayat 134-136,saya baru menyadari kekeliruan saya selama ini tentang definisi ketaqwaan.Lalu Pak I menjelaskan bahwa ketaqwaan itu bersifat universal bila merujuk pada QS al imran ayat 134-136,artinya semua pemeluk agama mana pun dengan ritual yang beraneka ragam dan berbeda-beda bila bertaqwa maka Tuhan  akan menjamin surga.Pak I juga menjelaskan bahwa penyebutan Allah pada agama lain bisa berbeda-beda,tetapi tidak bisa mengingkari bahwa ketaqwaan itu bersifat universal tentang bagaimana manusia berperilaku.

Menurut Pak I,puasa di bulan ramadhan itu perintah tidak langsung dan lembut dari Allah agar kita menafkahkan sebagian harta.Justru Pak I dengan bercanda mengatakan bahwa puasa itu ibadah orang kere/miskin karena lebih suka berpuasa dibanding membayar fidyah.Dan Pak I juga menjelaskan bahwa Fidyah sendiri adalah bentuk penerapan ketaqwaan,karena dalam definisi ketaqwaan sendiri sesuai QS Ali Imron ayat 134-135,maka fidyah itu perwujudan menafkahkan sebagian harta.

Pak I juga menjelaskan segala bentuk ritual dalam agama seperti puasa,sembahyang 5 waktu itu semua agar manusia bisa menjadi manusia bertaqwa.Dan tata cara berpuasa yang selama ini kita kenal yaitu menahan makan,minum dan sex dari subuh sampai maghrib itu hasil kesepekatan ulama.Puasa seperti orang terdahulu bisa saja seperti Maryam,Zakaria yang menjalankan puasa dengan menahan bicara.Pak I lalu mengingatkan ke saya bahwa Qur’an lebih tinggi derajatnya dibanding hadits-hadits atau dalil-dalil ulama yang berbeda-beda tentang suatu hal.

Lalu Pak I juga menjelaskan kepada saya bahwa ritual yang paling utama adalah mengingat Allah (Zikrullah) sesuai dengan penjelasan Qur’an surat Al-Ankabut ayat 45 ,yang berbunyi :

Bacalah Kitab (Al-Quran) yang telah diwahyukan kepadamu (Muhammad) dan laksanakanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah (perbuatan) dari keji dan mungkar. Dan (ketahuilah) mengingat Allah (shalat) itu lebih besar (keutamaannya dari ibadah yang lain). Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. [QS .Al-Ankabut ayat 45]

Jadi secara tidak langsung Pak I mengatakan kepada saya bahwa puasa itu bukan ritual utama,tetapi zikir (mengingat Allah) itu lebih utama dibandingkan puasa.Pak I sendiri juga menjelaskan bahwa dalam bentuk zikir itu bisa bermacam-macam bisa dalam bentuk sembahyang/sholat,wirid (mengucap berulang-ulang asma Allah),dan meditasi yang semua bertujuan untuk mengingat Allah dalam diri.

Tetapi Pak I memperingatkan ke saya bahwa jika tidak mampu membayar fidyah sesuai ukuran,maka jangan sekali-kali melalaikan puasa di bulan ramadhan dan dengan serius mengatakan akan mendapat sial bila melanggar aturan itu.

Setelah diskusi lama dengan Pak I yang mempunyai pemikiran kontroversial dan membatalkan puasa di siang hari,akhirnya saya berpisah dengan Pak I sambil merenungkan hasil diskusi dengan Pak I.Mungkin mayoritas muslim pada umumnya bakal menolak,mencaci maki dan menentang habis-habisan pemikiran Pak I, tetapi saya justru memuji dan mengakui kebijakan,kejeniusan pemikirannya.Saya menilai pemikiran Pak I justru menunjukkan bahwa islam itu flexible dan merahmati seluruh alam.

Kita bayangkan saja andaikan kita menjalankan puasa ramadhan di negara subtropis pada musim kemarau yang mana jarak antara subuh sampai maghrib bisa mencapai lebih dari 16 jam.Apakah kita bisa menjalani puasa ?kalau diri saya sendiri jujur saya tidak akan sanggup menjalani puasa tersebut.Tetapi apakah saya tetap dicaci maki bila saya lebih memilih membayar fidyah dibanding mengganti puasa di hari lain karena tidak sanggup menjalankan puasa di bulan ramadhan ?.Padahal belum tentu saya masih bernyawa di hari berikutnya untuk mengganti puasa di lain hari.

Memang benar  sudah ada kesepakatan para ulama tentang mengikuti rentang antara waktu subuh sampai maghrib di negara tropis,bila ada muslim menjalankan puasa bulan ramadhan di negara subtropis saat musim kemarau.Tetapi menurut saya,kesepakatan itu justru buat kita terjebak pada ajang pamer kekuatan fisik seseorang dibandingkan menghayati tujuan puasa itu sendiri yaitu menjadikan manusia bertaqwa.

Kita bayangkan lagi andaikan saja kita adalah kuli bangunan yang harus bekerja di bulan ramadhan,atau misalnya juga kita bayangkan lagi kita adalah pemain sepak bola muslim di liga benua eropa.Yang mana kedua profesi tersebut menuntut menggunakan tenaga dan fisiknya untuk mencari nafkah di bulan ramadhan.Memang sebagian ada yang masih kuat menjalani puasa di bulan ramadhan,tetapi itu sangat sedikit jumlahnya karena itu harus mempunyai fisik dan tenaga yang luar biasa kuat.

Banyak pendapat muslim untuk menyarankan mengganti puasa di lain hari saat di hari libur pada pemain sepak bola atau kuli bangunan.Yang jadi pertanyaan saya apakah mereka punya waktu libur sejumlah 30 hari dalam setahun?Bila tidak mempunyai libur 30 hari,bukan kah fidyah itu jalan terbaik?.Selama ini kita selalu mendengar fatwa atau hasil ijtihad bahwa orang sehat dilarang membayar fidyah untuk mengganti puasa,tetapi harus mengganti hari puasa di lain hari.Jadi selama ini fidyah itu terkesan exclusive hanya untuk orang tua,atau orang sakit-sakitan.

Fatwa atau hasil ijtihad ulama/imam besar tentang fidyah hanya untuk orang tua,atau orang sakit-sakitan menurut saya kurang bijak.Bila kita tinjau dari segi manfaat untuk kemanusiaan maka fidyah lebih bermanfaat dibandingkan dengan kita mengganti puasa di lain hari.Dalam fidyah,kita bisa melihat senyuman orang yang menikmati hasil dari sebagian harta dari diri kita yang disisihkan.Dan bukan kah tujuan puasa itu sendiri itu agar manusia bisa bertaqwa?,yang mana salah 1 ciri manusia bertaqwa adalah menafkahkan sebagian harta untuk disisihkan.

Bagi saya sendiri pemikiran Pak I saya setujui,dan saya sendiri bayar fidyah untuk menggantikan puasa yang tidak saya laksanakan di bulan ramadhan karena alasan pekerjaan.Seperti yang sudah dijelaskan di atas bayar fidyah itu lebih bermanfaat dibandingkan saya mengganti puasa di lain hari.

Sering saya dapati sarkasme di sosial media tentang puasa ramadhan dari islamophobia,islamhater misalnya sindiran tentang puasa islam di kutub utara-kutub selatan,puasa di planet mars,puasa di bulan.Saya sendiri sebenarnya prihatin dan tidak suka dengan kondisi yang mana banyak opini yang menyudutkan kalau islam itu ajaran yang menakutkan.Hal itu saya maklumi karena banyak  muslim yang terjebak oleh dalil atau fatwa dari imam besar sehingga terkesan membatasi diri dari perkembangan zaman seperti masalah puasa dan fidyah yang saya bahas di sini.

Saya juga memaklumi banyak teman-teman saya yang nyinyir ke saya,saat saya tidak menjalani puasa dan mengatakan ke mereka bahwa saya akan mengganti  puasa nya dengan fidyah.Mereka nyinyir ke saya bahwa saya tidak pantas membayar fidyah karena saya masih sehat.Nyiniyiran dari mereka semua,saya anggap angin lalu.

Saya sebenarnya tidak memprovokasi orang untuk tidak puasa di bulan ramadhan,tetapi saya hanya mengkritisi dalil bahwa fidyah itu hanya untuk orang sakit sekarat,wanita hamil dan orang tua.Saya saat ini kalau lagi santai dan tidak ada pekerjaan berat maka saya tetap menjalankan puasa,karena bagi saya sendiri puasa itu latihan olah batin untuk tetap stabil emosi,pikiran kita dalam kondisi ekstrim.

Kita tahu sendiri bahwa orang yang dalam kondisi perut lapar dan haus itu mudah tersulut emosi,dan labil pikirannya.Maka saya rasa sudah tepat bahwa puasa itu sarana latihan untuk tetap fokus berbuat kebajikan,rajin zakat,pemaaf dalam kondisi lapar.

Muara dari semua ritual ajaran agama apapun di dunia ini adalah membuat orang bertaqwa.Jadi saya berpendapat bahwa puasa atau tidak puasa seseorang di bulan ramadhan bukan jadi fokus,tetapi di bulan ramadhan yang penuh berkah ini kita dituntut untuk berlomba-lomba dalam berbuat kebajikan.Bukan kah Allah berfirman dalam QS Al-Baqarah ayat 184 bahwa “Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya.Artinya fidyah itu tidak jadi masalah bagi yang berat menjalankan.

Lalu dilanjutkan dalam kalimat berikutnya pada firman Allah QS Al-Baqarah ayat 184 bahwa “Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” Permasalahannya adalah kita tidak tahu puasa sendiri itu apa ?.Metode puasa yang selama ini kita kenal yaitu menahan makan,minum,dan sex dari subuh sampai maghrib adalah kesepekatan,ijtihad para ulama.Daripada kita terjebak tentang metode puasa,alangkah lebih baik jika kita langsung menuju ke tujuan puasa yaitu menjadi bertaqwa,salah 1 bentuknya yaitu bayar fidyah.Karena kita tidak tahu puasa itu apa?dan apakah puasa kita diterima ?atau hanya sia-sia.

Orang-orang yang nyinyir kepada pemikiran Pak I dan saya itu sebenarnya belum paham bahwa tujuan berpuasa adalah mengubah kepribadian menjadi rajin zakat, pemaaf,selalu berbuat kebajikan seperti yang sudah dijelaskan pada QS Al-Imran ayat 134-135 berisi penjelasan tentang definisi ketaqwaan.Kalau mayoritas muslim sudah tidak paham tujuan puasa,wajar saja ajaran islam tentang puasa dianggap sebagai agama/ajaran yang tidak merahmati semua nya,hanya merahmati di negara tropis atau jazirah arab yang mana rentang waktu subuh sampai maghrib rata-rata adalah 12-13 jam.

Ditambah lagi ada anggapan bahwa ajaran islam tentang puasa tidak merahmati semua manusia,tetapi hanya merahmati manusia yang bekerja di kantor ber-Ac,atau orang yang bekerja tanpa menggunakan fisik.Padahal anggapan miring atau jelek tentang islam itu tidak benar.Hanya saja mayoritas muslim di dunia terjebak dengan fatwa atau ijtihad ulama tentang fidyah yang dikhususkan hanya untuk orang hampir sekarat,orang tua,atau wanita hamil.

Bila fidyah hanya untuk orang tertentu saja,maka terkesan puasa itu sebagai ajang pamer kekuatan fisik,diet OCD,atau sekedar pindah jam makan saja untuk mendapatkan ridho Allah.Padahal yang paling mulia di hadapan Allah adalah manusia yang bertaqwa.

Untuk lebih jelasnya,kita bisa mengambil kisah nabi Ibrahim yang diperintahkan Allah untuk menyembelih anak nya.Saat Ibrahim mau menyembelih anaknya,tiba-tiba saja perintah Allah berganti dengan memerintahkan mengganti menyumbangkan hewan qurban.Itulah metafora/perumpamaan bagaimana Allah sebenarnya memerintahkan secara tidak langsung untuk menyisihkan sebagian harta nabi Ibrahim.Bisa kah kita mengambil pelajaran perintah puasa itu sebenarnya perintah tidak langsung untuk kita menyisihkan sebagian harta kita? berupa fidyah dan zakat fitrah.

Apakah anda berpuasa ?Puasa dan tidak puasa itu urusan anda.Yang jelas bila anda tidak kuat berpuasa maka anda wajib membayar fidyah.Islam itu flexible dan merahmati semua alam dan manusia.

Sekian

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s